Traditional Dance Di Bali
Traditional Dance Di Bali

Traditional Dance Di Bali Menarik Minat Wisatawan Asing

Posted on

Pulau dewata memiliki berbagai nilai keindahan baik dari pesona alam yang memukau maupun budaya dan tradisi yang sampai saat ini masih kental terjaga dan menjadi objek tujuan wisata, dimana hampir seluruh wilayah di bali mempunyai tempat tempat khusus sebagai objek wisata, sehingga banyak orang menyebutnya sebagai surga bagi para pelancong.

Keindahan alam yang terbentang di pulau bali tidak pernah terlepas dari keramah tamahan para penduduknya yang mempunyai kesadaran tinggi disertai kreativitas untuk menjadikan daerah mereka memiliki potensi alam yang kaya akan khasanah budaya di samping menyimpan panorama alam yang cukup menarik sehingga menjadikannya sebuah tempat yang benar benar memanjakan dan mampu menarik minat para wisatawan asing untuk berkunjung ke sini, dan hal ini telah lama terbukti, tidak hanya terhadap keindahan alamnya saja yang terkenal ke seluruh dunia.

Namun banyak dijumpai hasil kreasi masyarakat bali yang mampu menjadi daya tarik atau perhatian besar terhadap berbagai wisatawan dari seluruh penjuru dunia, salah satunya adalah tertuang dalam bentuk seni tarian tradisional yang memiliki ciri khas berbeda dengan tari tradisional dari wilayah lainnya di Indonesia. Berikut ini kami berikan informasi terkait dengan beberapa jenis tari tradisional asal Bali yang paling populer.

”Baca Juga Tarian Sebagai Sambutan Selamat Datang Di Bali”

Seperti halnya tari merak dari jawa barat, tari cendrawasih bali merupakan sebuah tarian tradisional yang menggambarkan tentang keindahan bulu dari burung cendrawasih yang suka beterbangan di angkasa setiap pagi hari. Tari cendrawasih umumnya ditarikan oleh 2 orang wanita dewasa. Satu memerankan burung cendrawasih jantan dan yang lainnya bermain sebagai cendrawasih betina.

Kisah umum yang digambarkan pada tarian ini adalah menggambarkan tentang kelembutan serta kemesraan dari sepasang kekasih, burung cendrawasih di pegunungan irian jaya ketika sedang berlangsung masa birahi dan hal ini sudah menjadi hukum alam dimana bisa sebagai simbol penghias alam dan sekelilingnya melalui gerakan – gerakan indah, luwes dan menarik tertuang dalam sebuah tarian cinta yang tersusun atas warna – warni pelangi yang terpendar di atas langit dalam rangkuman gerak tarian tradisional bali bagaikan penggalan sebuah puisi para pujangga.

Tari duet yang dibawakan dengan manis oleh penari putri ini lebih menonjolkan tentang gerak unik dan eksotik dari tari tradisional bali seperti beberapa pose yang santai tapi lemah gemulai dan gerakan tambahan lainnya yang telah dikembangkan sesuai dengan interpretasi penata dalam mengkombinasikan dan menemukan bentuk – bentuk gerakan baru sesuai dengan tema utama dari tarian ini.

Agar tercipta penampilan yang lebih sempurna, perlu didukung oleh busana adat bali yang ditata sedemikian rupa menarik agar bisa memperkuat dan memperjelas desain gerak yang telah diciptakan. Dimana diketahui bahwa tarian ini dikreasikan pertama kali oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem ( yang juga dikenal sebagai penata busana daripada tarian ini ) dalam rangka mengikuti Festival Yayasan Walter Spies, dengan penata tabuh pengiring adalah I Wayan Beratha dan I Nyoman Widha pada tahun 1988.

Sekilas penilaian, tari ini menyerupai tari manukrawa, tapi memiliki sedikit perbedaan yaitu harus ditarikan oleh perempuan yang sudah dewasa karena tarian ini menggambarkan suasana bercinta dimana terdapat sekelompok atau dua pasang burung cendrawasih yang sedang beterbangan untuk menikmati alam bebas, penuh dengan keriangan hati dan selalu gembira, suka bercanda sambil memadu kasih dengan pasangannya. Tarian ini biasa ditampilkan secara berkelompok atau oleh dua orang.

Tari tradisional bali tidak bisa dengan mudah dipisahkan terhadap agama dan budaya setempat. maka dari itu, sebelum memulainya, harus disertai dengan sedikit persembahan kepada dewa penjaga pura dimana biasanya tarian ini ditampilkan berupa menghaturkan makanan dan bunga yang tertata rapi dalam satu wadah yang disebut bokor, harus disiapkan untuk para penari dan pemandunya yang bermanfaat untuk keselamatan pertunjukan agar sukses dan mampu menghibur para penonton termasuk para wisatawan lokal dan asing. Mereka harus bersembahyang terlebih dahulu di sanggah masing – masing atau pura yang dimaksud guna memohon taksu atau  ( inspirasi ) dari para dewa.

Kondisi di atas merupakan sebuah tradisi dari warisan leluhur sejak jaman dulu kala, dimana banyak orang percaya bahwa dengan adanya kedamaian dan harmoni yang berasal dari perlindungan yang diperoleh dari berkah para dewa dan leluhur maka tarian dalam konteks ini akan memiliki beberapa fungsi spesifik lainnya seperti :

  1. Sebagai sarana media atau tempat untuk para Dewa yang sedang turun ke dunia melalui para penari dan penabuh gamelan, dimana penari akan berlaku sebagai tempat persinggahan sementara mereka. Termasuk ke dalam tari ini adalah Tari Sang Hyang Dedari yang dilakoni oleh gadis kecil dalam kondisi sedang kesurupan, dan Tari Sang Hyang Jaran, sebuah tarian api.
  2. Sebagai sarana buat menyambut Dewa – Dewa yang diharapkan datang ke dunia melalui para penari seperti Tari Pendet, Rejang dan Sutri.
  3. Sebagai hiburan kepada Dewa – Dewa yang datang ke dunia seperti Tari Topeng dan Wayang.

Peran dari tari – tarian ini sangatlah penting dan merupakan sebuah kunci dari segala maksud dan tujuan yang diharapkan bisa diperoleh melalui sebuah upacara adat yang sedang berlangsung di dalam sanggah sebuah keluarga bali atau pura.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *